Senin, 06 Februari 2012

Contoh Makalah Pengaruh Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan


Contoh Makalah Pengaruh Perpustakaan 
Sekolah terhadap Mutu Pendidikan
 
KATA PENGANTAR
             Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
             Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar pengaruh perpustakaan sekolah terhadap mutu pendidikan yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
              Makalah ini memuat tentang “Pengaruh Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah” dan sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan,
              Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru/dosen pembimbing yang telah banyak membantu penyusun agar dapat menyelesaikan makalah ini. 
              Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
Penulis
imam mahmud
 
DAFTAR ISI

 
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI


BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
                                                      .........................................................................................
B. IDENTIFIKASI MASALAH
                              .........................................................................................
C. PEMBATASAN MASALAH.
                            .........................................................................................
D. PERUMUSAN MASALAH.                              .........................................................................................

BAB II PEMBAHASAN
A. TUJUAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH.       .........................................................................................
B. FUNGSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH.        .........................................................................................
C. SUMBANGAN PERPUSTAKAAN TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN DI SEKOLAH.                                                             .........................................................................................

BAB III PENUTUP
A. SIMPULAN                                                       ..........................................................................................
B. SARAN                                                              ...........................................................................................

Daftar Pustaka.



BAB I
PENDAHULUAN
 
A. LATAR BELAKANG MASALAH
           Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang dan mengalami kemajuan, sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan cara berpikir manusia. Bangsa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum memperbaiki kualitas sumber daya manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan yang mapan. Dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif, dan produktif.

          Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa negara kita ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas. Untuk mencapai bangsa yang cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Masyarakat belajar dapat terbentuk jika memiliki kemampuan dan keterampilan mendengar dan minat baca yang besar. Apabila membaca sudah merupakan kebiasaan dan membudaya dalam masyarakat, maka jelas buku tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan merupakan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi.

          Dalam dunia pendidikan, buku terbukti berdaya guna dan bertepat guna sebagai salah satu sarana pendidikan dan sarana komunikasi. Dalam kaitan inilah perpustakaan dan pelayanan perpustakaan harus dikembangkan sebagai salah satu instalasi untuk mewujudkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan merupakan bagian yang vital dan besar pengaruhnya terhadap mutu pendidikan.

          Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.

B. IDENTIFIKASI MASALAH (LATAR BELAKANG)
          Sesuai dengan judul makalah ini “Pengaruh Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah”, terkait dengan pelaksanaan program pendidikan di sekolah dan fungsi serta sumbangan perpustakaan terhadap pelaksanaan program tersebut.
Berkaitan dengan judul tersebut, maka masalahnya dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Bagaimana peran perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah
2. Bagaimana cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ?

C. PEMBATASAN MASALAH.
          Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang dibahas dibatasi pada masalah :
a. Peran perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah;
b. Cara-cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

D. Perumusan Masalah.
          Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimana deskripsi peran perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah ?
2. Bagaimana deskripsi cara agar perpustakaan sekolah benar-benar dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ?


BAB II
PEMBAHASAN

           Perpustakaan merupakan bagian intergral dari lembaga pendidikan sebagai tempat kumpulan bahan pustaka, baik berupa buku maupun bukan buku.
Sesuai dengan judul makalah ini, pembahasan meliputi tujuan perpustakaan, fungsi perpustakaan dan sumbangan perpustakaan terhadap pelaksanaan program pendidikan.


A. TUJUAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH.

          Tujuan utama penyelenggaraan perpustakaan sekolah adalah meningkatkan mutu pendidikan bersama-sama dengan unsur-unsur sekolah lainnya. Sedangkan tujuan lainnya adalah menunjang, mendukung, dan melengkapi semua kegiatan baik kurikuler, ko-kurikuler dan ekstra kurikuler, di samping dimaksudkan pula dapat membantu menumbuhkan minat dan mengembangkan bakat murid serta memantapkan strategi belajar mengajar.
         Namun secara operasional tujuan perpustakaan sekolah bila dikaitkan dengan pelaksanaan program di sekolah, diantaranya adalah :
1. Memupuk rasa cinta, kesadaran, dan kebiasaan membaca.

2. Membimbing dan mengarahkan teknik memahami isi bacaan.

3. Memperluas pengetahuan para siswa.

4. Membantu mengembangkan kecakapan berbahasa dan daya pikir para siswa dengan menyediakan bahan bacaan yang bermutu.

5. Membimbing para siswa agar dapat menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.

6. Memberikan dasar-dasar ke arah studi mandiri.

7. Memberikan kesempatan kepada para siswa untuk belajar bagaimana cara menggunakan perpustakaan dengan baik, efektif dan efisien, terutama dalam menggunakan bahan-bahan referensi.

8. Menyediakan bahan-bahan pustaka yang menunjang pelaksaanan program kurikulum di sekolah baik yang bersifat kurikuler, kokurikuler, maupun ekstra kurikuler.


B. FUNGSI PERPUSTAKAAN SEKOLAH.

         Berdasarkan tujuan perpustakaan sekolah, maka dapat dirumuskan beberapa fungsi perpustakaan, sebagai berikut :
1. Fungsi Edukatif.

         Yang dimaksud dengan fungsi edukatif adalah perpustkaan menyediakan bahan pustaka yang sesuai dengan kurikulum yang mampu membangkitkan minat baca para siswa, mengembangkan daya ekspresi, mengembangkan kecakapan berbahasa, mengembangkan gaya pikir yang rasional dan kritis serta mampu membimbing dan membina para siswa dalam hal cara menggunakan dan memelihara bahan pustaka dengan baik.

2. Fungsi Informatif.

        Yang dimaksud dengan fungsi informatif adalah perpustakaan menyediakan bahan pustaka yang memuat informasi tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan yang bermutu dan uptodate yang disusun secara teratur dan sistematis, sehingga dapat memudahkan para petugas dan pemakai dalam mencari informasi yang diperlukannya.

3. Fungsi Administratif

        Yang dimaksudkan dengan fungsi administratif ialah perpustakaan harus mengerjakan pencatatan, penyelesaian dan pemrosesan bahan-bahan pustaka serta menyelenggarakan sirkulasi yang praktis, efektif, dan efisien.
 
4. Fungsi Rekreatif.
         Yang dimaksudkan dengan fungsi rekreatif ialah perpustakaan disamping menyediakan buku-buku pengetahuan juga perlu menyediakan buku-buku yang bersifat rekreatif (hiburan) dan bermutu, sehingga dapat digunakan para pembaca untuk mengisi waktu senggang, baik oleh siswa maupun oleh guru.
 
5. Fungsi Penelitian
         Yang dimaksudkan dengan fungsi penelitian ialah perpustakaan menyediakan bacaan yang dapat dijadikan sebagai sumber / obyek penelitian sederhana dalam berbagai bidang studi.

C. SUMBANGAN PERPUSTAKAAN TERHADAP PELAKSANAAN PROGRAM PENDIDIKAN DI SEKOLAH.
         Bila diperhatikan secara jenih, maka perpustakan sekolah sesungguhnya memberikan sumbangan terhadap pelaksanaan program pendidikan di sekolah. Sumbangan / peranan perpustakaan antara lain :
1. Perpustakaan merupakan sumber ilmu pengetahuan dan pusat kegiatan belajar.
2. Perpustakaan merupakan sumber ide-ide baru yang dapat mendorong kemauan para siswa untuk dapat berpikir secara rasional dan kritis serta memberikan petunjuk untuk mencipta.
3. Perpustakaan akan memberikan jawaban yang cukup memuaskan bagi para siswa, sebagai tuntutan rasa keingintahuan terhadap sesuatu, benar-benar telah terbangun.
4. Kumpulan bahan pustaka (koleksi) di perpustakaan memberika kesempatan membaca bagi para siswa yang mempunyai waktu dan kemampuan yang beraneka ragam.
5. Perpustakaan memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mempelajari cara mempergunakan perpustakaan yang efisien dan efektif.
6. Perpustakaan akan membantu para siswa dalam meningkatkan dalam kemampuan membaca dan memperluas perbendaharaan bahasa.
7. Perpustakaan dapat menimbulkan cinta membaca, sehingga dapat mengarahkan selera dan apresiasi siswa dalam pemilihan bacaan.
8. Perpustakaan memberikab kepuasan akan pengetahuan di luar kelas.
9. Perpustakaan merupakan pusat rekreasi yang dapat memberikan hiburan yang sehat.
10. Perpustakaan memberikan kesempatan kepada para siswa dan guru untuk mengadakan penelitian.
11. Perpustakaan merupakan batu loncatan bagi para siswa untuk melanjutkan kebiasaan hidup membaca di sekolah yang lebih tinggi.
12. Kegairahan / minat baca siswa yang telah dikembangkan melalui perpustakaan sangat berpengaruh positif terhadap prestasi belajarnya.
13. Bila minat membaca sudah tumbuh dan berkembang pada diri siswa, maka perpustakaan juga dapat mengurangi jajan anak, yang ini biasanya dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan anak.
14. Bahkan perpustakaan juga bagi anak-anak dapat menjauhkan diri dari tindakan kenakalan, yang bisa menimbulkan suasana kurang sehat dalam hubungan berteman diantara mereka.

BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN

          Berdasarkan uraian bahasan “Peranan Perpustakaan Sekolah terhadap Mutu Pendidikan di Sekolah” dapat disimpulkan bahwa :
1. Peranan perpustakaan sangat menunjang prestasi pendidikan di sekolah.

2. Perpustakaan sangat penting dan harus ada pada setiap sekolah di semua jenjang pendidikan.

3. Pengelolaan perpustakaan harus dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan fungsinya


B. SARAN

          Bertolak dari peranan perpustakaan yang begitu banyak sumbangsihnya dalam pelaksanaan program pendidikan di sekolah, penyusun memberikan saran sebagai berikut:
1. Sebaiknya perpustakaan dikelola sesuai dengan tujuan dan fungsinya.

2. Peran pengelola perpustakaan / pustakawan yang profesional hendaknya mendapatkan bekal yang cukup sehingga menjadi pustakawan yang handal dan profesional.

 
DAFTAR PUSTAKA
imaemmdisgaul.blogspot.com

Minggu, 05 Februari 2012

Ruang Lingkup dan Proses Terbentuknya Kewirausahaan

 Ruang Lingkup dan Proses Terbentuknya Kewirausahaan

mazimaem 06 februari 2012

1. Disiplin Ilmu Kewirausahaan dan Perkembangannya
           Dalam teori ekonomi, studi mengenai kewirausahaan ditekankan pada identifikasi peluang yang terdapat pada peranserta membahas fungsi inovasi dari wirausaha dalam menciptakan kombinasi sumber daya ekonomis sehingga memengaruhi ekonomi agregat. Studi kewirausahaan kemudian berkembang dalam disiplin ilmu lain yang penekanannya pada sang wirausaha sendiri. Dalam bidang ilmu psikologi, misalnya
studi kewirausahaan meneliti karakteristik kepribadian wirausaha, sedangkan pada ilmu sosiologi penelitian ditekankan pada pengaruh dari lingkungan sosial dan kebudayaan dalam pembentukan masyarakat wirausaha. Ray dan Ranachandran (1996) menandaskan, walau terdapat perbedaan sudut pandang, penelitian yang dilakukan baik oleh ahli ekonomi, psikologi, dan sosiologi harus tetap bepijak pada kegiatan kewirausahaan serta sebab akibatnya pada tingkat mikro dan makro. Dengan demikian adalah wajar jika studi kewirausahaan dengan penekanan keilmuan yang berbeda itu pada akhirnya akan saling berhubungan dan memengaruhi. Sementara itu fenomena kewirausahaan ini masih terus diteliti dan belum terdapat
satu pengertian baku yang dianut oleh semua ahli (Shapero, 1982). Ini menunjukkan perkembangan teori ini masih dalam perjalanan panjang serta dari adanya perubahanperubahan ekonomi dunia diharapkan memberi banyak masukan bagi peneliti. Muculnya banyak wirausaha atau pebisnis, telah menarik perhatian para pakar untuk meneliti bagaimana mereka terbantuk. Bagian ini menjelaskan teori-teori mengenai proses pembentukan wirausaha. Teori tersebut antara lain: life path change, goal directed behavior, teori outcome expectancy. Terakhir, terdapat acuan komprehensif mengenai teori pembetukan wirausaha yang dipadukan oleh teori-teori sebelumnya. Begitu banyak teori yang telah mengupas persoalan ini, intinya bahwa menjadi wirausaha adalah sebuah proses.
 
2. Teori Life Path Change
              Menurut Shapero dan Sokol (1982) dalam Sundjaja (1990), tidak semua wirausaha lahir dan berkembang mengikuti jalur yang sistematis dan terencana. Banyak orang yang menjadi wirausaha justru tidak memaluli proses yang direncanakan. Antara lain disebabkan oleh:
 
a. Negative displacement
             Seseorang bisa saja menjadi wirausaha gara-gara dipecat dari tempatnya bekerja, tertekan, terhina atau mengalami kebosanan selam bekerja, dipaksa/terpaksa pindah dari daerah asal. Atau bisa juga karena sudah memasuki usia pensiun atau cerai perkawinan dan sejenisnya. Banyaknya hambatan yang dialami keturunan Cina untuk memasuki bidang pekerjaan tertentu (misalnya menjadi pegawai negeri) menyisakan pilihan terbatas bagi mereka. Di sisi lain, menjaga kelangsungan hidup diri dan keluarganya, menjadi wirausaha pada kondisi seperti ini adalah pilihan terbaik karena sifatnya yang bebas dan tidak bergantung pada birokrasi yang diskriminatif.
 
b. Being between things
              Orang-orang yang baru keluar dari ketentaan, sekolah, atau penjara, kadangkala merasa seperti memasuki dunia baru yang belum mereka mengerti dan kuasai. Keadaan ini membuat mereka seakan berada di tengah-tengah dari dua dunia yang berbeda, namun mereka tetap harus berjuanfa menjaga kealngsungan hidupnya. Di sinilah biasanya pilihan menjadi wirausahaa muncul karena dengan menjadi wirausahan mereka bekerja dengan mengandalkan diri sendiri.
 
c. Having positive pull
             Terdapat juga orang-orang yang mendapat dukungan membuka usaha dari mitra kerja, investor, pelanggan, atau mentor. Dukungan memudahkan mereka dalam mengantisipasi peluang usaha, selain itu juga menciptakan rasa aman dari risiko usaha. Seorang mantan manajer di sebuah perusahan otomotif, misalnya, yang memutuskan untuk masuk ke bisnis suku cadang otomotif, misalnya dengan bahan baku ban bekas, seperti stopper back door, engine mounting, atau mufler mounting. Perusahaan otomotif tersebut memberi dukungan dengan menampung produk mantan manajernya tersebut.
 
3. Teori Goal Directed Behavior
             Menurut Wolman (1973), seseorang dapat saja menjadi wirausaha karena termotivasi untuk mencapai tujuan tertentu. Teori ini disebut dengan Goal Directed Behavior. Teori ini hendak menggambarkan bagaimana seseorang tergerak menjadi wirausaha, motivasinya dapat terlihat langkah-langkahnya dalam emncapai tujuan (goal directed behavior). Diawali dari adanya dorongan need, kemudian goal directed behavior, hingga tercapainya tujuan. Sedangkan need itu sendiri dari skema muncul karena adanya deficit dan ketidakseimbangan tertentu pada diri individu yang bersangkutan (wirausaha).
Seseorang terjun dalam dunia wirausaha diawali dengan adanya kebutuhankebutuhan, ini mendorong kegiatan-kegiatan tertentu, yang ditujukan pada pencapaian tujuan. Dari kacaata teori need dan motivasi tingkah laku, seperti menemukan kesempatan berusaha, sampai mendirikan dan melembagakan usahanya merupakan goal directed behavior. Sedangkan goal tujuannya adalah mempertahankan dan memperbaiki
kelangsungan hidu wirausaha.

4. Teori Outcome Expectancy
            Bandura (1986) menyatakan bahwa outcome expectancy bukan suatu perilaku tetapi keyakinan tentang konskuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu tindakan tertentu ....judgement about likely consequences of specific behaviors in particular situations. (Bandura, 1986:82)
            Dari definisi di atas, outcome expectancy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang mengenai hasil yan akan diperolehnya jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan keberhasilan. Seseorang memperkirakan bahwa keberhasilannya dalam melakukan tugas tertentu akan mendatangkan imbalan dengan nilai tertentu juga. Imbalan ini berupa juga insentif kerja yang dapat diperoleh dnegan segera atau dalam jangka panjang. Karenanya jika seseorang menganggap profesi wirausaha akan memberikan insentif yang sesuai dengan keinginannya maka dia akan berusaha untuk memenuhi keinginannya dengan menjadi wirausaha. Michael Dell, seorang mahasiswa teknik komputer di AS, mempunyai keyakinan yang kuat bahwa bila dia geluti serius hobi modifikasi komputer yang diminati teman-temannya ia akan dapat mengalahkan IBM kelak. Terdorong oleh hal itu Dell terus mengembangkan usaha dengan mendirikan Dell Corporation. Hingga kini Del dan IBM terus bersaing di industri komputer.
Jenis Outcome Expectancy Menurut bandura (1986) ada berbagai jenis insentif sebagai imbalan kerja yang
diharapkan individu dan setiap jenis memiliki kekhasan sendiri. Jenis insentif tersebut adalah:
 
a. Insentif primer
          Merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan dengan kebutuhan isiologis kita seperti makan, minum, kontak fisik, dan sebagainya. Insentif diperkuat nilainya jika seseorang dalam keadaan sangat kekurangan, seperti kurang makan/minum.
 
b. Insentif sensoris
          Beberapa kegiatan manusia ditujukan untk memperoleh umpan balik sensoris yang terdapat di lingkungannya. Misalnya anak kecil melakukan berbagai kegiatan untuk mendapatkan insemtif sensoris berupa bunyi-bunyi baru atau berupa stimulus baru untuk dilihat atau orang dewasa yang bermain musik untuk memperoleh umpan balik sensoris berupa bunyi musik yang dimainkan.
 
c. Insentif sosial
          Manusia akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan dari sebuah lingkungan sosial akan lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan atau hukuman daripada reaksi yang berasal dari satu individu.
 
d. Insentif yang berupa token ekonomi
          Token ekonomi adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat, penambahan tunjungan, dan lain-lain. Hampir seluruh masyarakat menggunakan uang sebagai insentif. Hal ini disebabkan dengan uang, individu dapat memperoleh hampir semua hal yang diinginkannya, mulai dari pelayanan jasa hingga pemenuhan kebutuhan fisik, kesehatan, dan lainlain.
 
e. Insentif yang berupa aktivitas 
          Teori-teori mengenai reinforcement yang sangat terikat pada dorongan biologis, mengasumsikan bahwa imbalan akan memengaruhi perilaku dengan cara memuaskan atau mengurangi dorongan fisiologis. Ternyata dari penelitian terbaru diketahui bahwa beberapa aktivitas atau kegiatan fisik justru memberikan nilai insentif yang tersendiri pada individu.
 
f. Insentif status dan pengaruh
          Pada sebagian besar masyarakat, kedudukan individu seringkali dikaitkan dengan status kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki individu dalam lingkungan sosial memberikan kesempatan kepadnya untuk mengontrol perilaku orang lain, baik melalui simbol atau secara nyata. Dengan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat, mereka dapat menikmati imbalan materi, penghargaan sosial, kepatuhan, dan lain-lain. Keuntungan yang khas ini membawa individu berusaha keras untuk mencapai posisi yang memberikan kekuasaan.
 
g. Insentif berupa terpenuhinya standar internal
          Insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari pekerjaanya. Insentif bukan berasal dari hal di luar diri, tetapi berasal dari dalam diri seseorang. Reaksidiri yang berupa rasa puas dan senang merupakan salah satu bentuk imbalan internal yang ingin diperoleh seseorang dari pekerjaannya. Seorang yang merasakan bahwa kemampuannya tidak akan dapat optimal bila hanya bekerja
sebagai karyawan, akan lebih puas bila ia merasa bahwa dengan berwirausaha segenap potensinya dapat tersalurkan. Jadi ada insentif-insentif tertentu yang umumnya diharapkan seseorang dengan menjadi wirausaha. Antara lain insentif primer, insentif sosial, insentif status dan pengaruh, dan insentif terpenuhinya standar iinternal.

5. Tujuan Pembentukan Wirausaha
            Teori-teori diatas sudah menjelaskan mengenai bagaimana proses seseorang dapat menjadi wirausaha. Walau teori tersebut masing-masing berdiri sendiri, sebenarnya ke empat teori tersebut saling mengisi. Dengan memadukan ke empat teori tersebut dapat menjadi model tahapan pembentukan yang sifatnya lebih komprehensif. Tahapan tersebut adalah:
 
a. Deficit equilibrium
             Seseorang merasa adanya kekurangan dalam dirinya dan berusaha untk mengatasinya. Kekurangan tersebut tidak harus berupa materi saja, namun dapat juga berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri (motivasi, standar internal, dan lainlain). Deficit equilibrium dapat pula terjadi karena berubahnya jalur hidup, seperti jika seseorang mendapat tekanan atau hinaan, misalnya baru keluar dari penjara, serta
mendapat dukungan dari orang lain (Shapero & Sokol, 1982).

b. Pengambilan keputusan menjadi wirausaha
            Perasaan kekurangan mendorong dia untuk mencari pemecahannya, untuk itu dia mengevaluasi alternatif pemecahan yang dimiliki. Dalam hal ini kemampuan perseptual, kapasitas informasi yang diterima, keberanian mengambil resiko, dan, tingkat aspirasinya terhadap suatu alternatif keputusan memeiliki peran yang sangat besar (Reitman, 1976) dalam usahanya mengambil keputusan untuk menjadi
wirausaha. 

c. Goal Directed Behavior
               Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki. Di sini masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya harapan sebagai pemecahan. Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia dapat jika melakukan tindakan tertentu. Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan sehingga mendorong tindakan dan perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman,
1973).
 
d. Pencapaian Tujuan
            Seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan sangat penting untuk pengambilan keputusan menjadi wirausaha. Tujuan ini berupa insentif yang diyakini akan dinikmati jika seseorang melaukan kegiatan tertentu.
 
6. Peran Pendidikan dalam Pembentukan Wirausaha
            Bagaimana peran pendidikan dalam proses pembetukan kewirausahaan? Masih ada perdebatan mengenai pertanyan ini. Meskipun seorang wirausaha belajar dari lingkungannya dalam memahami dunia wirausaha, namn ada pendapat yang mengatakan bahwa seorang wirausaha lebih memiliki streetsmart daripada booksmart, maksudnya adalah seorang wirausaha lebih mengutamakan untuk belajar dari pengalaman (streetsmart) dibandingkan dengan belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart).
Pandangan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. Jika pendapat tersebut benar maka secara tidak langsung usaha-usaha yang dilakukan untuk mendorong lahirnya jiwa kewirausahaan leat jalur pendidikan formal pada akhirnya sukar untuk berhasil.
          Terhadap pendangan di atas, Chruchill (1987) memberi sanggahan terhadap pendapat ini, menurutnya masalah pendidikan sangatlah penting bagi keberhasilan wirausaha. Bahkan dia mengatakan bahwa kegagalan pertama dari seorang wirausaha adalah karena dia lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan. Namun dia juga tidak menganggap remeh arti pengalaman bagi seoranga wirausaha, baginya sumber kegagalan kedua adalah jika seorang wirausaha hanya bermodalkan pendidikan tapi miskin pengalamam lapangan. Oleh karena itu perpaduan antara pendidikan dan pengalaman adalah faktor utaman yang menentukan keberhasilan wirausaha. Menurut Eels (1984) dam Mas’oed (1994), dibandingkan dengan tenaga lain tenaga terdidik S1 memiliki potensi lebih besar untuk berhasil menjadi seorang wirausaha karena memiliki kemampuan penalaran yang telah berkembang dan wawasan berpikir yang lebih luas. Seorang sarjana juga memiliki dua peran pokok, pertama sebagai manajer dan kedua sebagai pencetus gagasan. Peran pertama berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah, sehingga pegnetahuan manajemen dan keteknikan yang memadai mutalk diperlukan. Peran kedua menekankan pada perlunya kemampuan
merangkai alternatif-alternatif. Dalam hal ini bekal yang diperlukan berupa pengetahuan keilmuan yang lengkap.
             Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan seta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha sebagai sarana untuk mencapai tujuan, pendidikan disini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau
teori sebagai landasan berpikir.

gueimaem@yahoo.com

Peranan Dalam Pembangunan Ekonomi

PERANAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

            Social Entreprenuers makin berperan dalam pembangunan ekonomi karena
ternyata mampu memberikan daya cipta nilai–nilai sosial maupun ekonomi, yakni :
   1. Menciptakan kesempatan kerja
   2. Melakukan inovasi dan kreasi baru terhadap produksi barang ataupu jasa yang dibutuhkan masyarakat
   3. Menjadi modal sosial
   4. Peningkatan Kesetaraan (equity promotion)

1. Kesempatan Kerja
          Manfaat ekonomi yang dirasakan dari Social Entrepreneurship di berbagai negara adalah penciptaan kesempatan kerja baru yang meningkat secara signifikan. Penelitian yang dilakukan oleh John Hopkins University pada tahun 1998 di 13 negara menunjukan bahwa tenaga kerja yang bekerja disektor ini berkisar antara 1 – 7 %.
           Selain itu memberikan pula peluang kerja kepada penyandang cacat untuk dilibatkan dalam kegiatan produktif. Keberhasilan Muhammad Yunus antara lain adalah kemampuannya untuk memberdayakan 6 juta orang wanita menjadi kekuatan yang produktif secara ekonomi, membentuk phone-lady yang tersebar didesa-desa dan memberdayakan ribuan pengemis untuk melakukan kegiatan yang lebih produktif.

2. Inovasi dan Kreasi
             Berbagai inovasi terhadap jasa kemasyarakatan yang selama ini tidak tertangani oleh pemerintah dapat dilakukan oleh kelompok Social Entrepereneurship seperti misalnya : penanggulangan HIV dan narkoba, pemberantasan buta huruf, kurang gizi. Seringkali standar pelayanan yang dilakukan pemerintah tidak mengena sasaran karena terlalu kaku mengikuti standar yang ditetapkan.
Sedangkan Social Entrepreneurs mampu untuk mengatasinya karena memang dilakukan dengan penuh dedikasi. Menurut Bill Drayton (2006): social entrepreneurs need and deserve loyalty. Their work is not a job, it is their life.
 
3. Modal Sosial
               Modal sosial merupakan bentuk yang paling penting dari berbagai modal yang dapat diciptakan oleh social entrepreneur karena walaupun dalam kemitraan ekonomi yang paling utama adalah nilai -nilai : saling pengertian (shared value), trust (kepercayaan) dan budaya kerjasama ( a culture of cooperation), kesemuanya ini adalah modal sosial. Keberhasilan negara Jerman dan Jepang adalah karena akar dari long-term relationship dan etika kerjasama yang mampu untuk menumbuhkan inovasi dan mengembangkan industri di negara masing-masing. Bank Dunia menyatakan pula bahwa permasalahan yang kritis dalam penanggulangan kemiskinan adalah modal sosial yang tidak memadai. Dibawah ini digambarkan
“virtous circle of social capital” yang diawali dengan penyertaan awal dari modal sosial oleh social entrepreneurs. Selanjutnya dibangun jaringan kepercayaan dan kerjasama yang makin meningkat sehingga dapat akses kepada pembangunan fisik, aspek keuangan dan sumber daya manusia. Pada saat unit usaha dibentuk (organizational capital) dan saat usaha sosial mulai menguntungkan maka makin
banyak sarana sosial dibangun.

4. Peningkatan Kesetaraan
           Salah satu tujuan pembangunan ekonomi adalah terwujudnya kesetaraan dan pemerataan kesejahteraan masayarakat. Dan melalui social entrepreneurship tujuan tersebut akan dapat diwujudkan, karena para pelaku bisnis yang semula hanya memikirkan pencapaian keuntungan yang maksimal, selanjutnya akan tergerak pula untuk memikirkan pemerataan pendapatan agar dapat dilakukan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Contoh keberhasilan Grameen Bank adalah salah satu bukti dari manfaat ini. Demikian pula upaya J.B.Schramm dari Amerika Serikat yang telah membiayai ribuan pelajar dari keluarga tidak mampu untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi.
 
PENUTUP
              Pembangunan ekonomi seharusnya dituj ukan untuk memberdayakan manusia (people empowerement) agar dapat mengembangkan Social Entrepreneurship termasuk pengembangan entrepreneurship dalam arti luas. Kebijakan pemerintah seharusnya ditujukan untuk mengurangi hambatanhambatan birokrasi yang mengarah kepada menurunnya kegiatan social entrepreneurship.
                Berbagai tantangan yang dihadapi oleh Social Entrepreuners antara lain adalah masalah pendanaan, pendidikan untuk para pemimpin dimasa mendatang yang menyadari tentang pentingnya social entrpreneurship , dan kurangnya insentif yang diberikan oleh pemerintah untuk meringankan beban lembaga-lembaga yang bergerak dibidang sosial. Oleh karena itu Social Entrepreneurs harus didukung oleh
Social Investor agar inovasinya dapat diwujudkan. Hendaknya disadari bahwa Social Entrepreneurship bukanlah satu-satunya obat untuk mengatasi permasalahan sosial yang dihadapi, karena dalam kenyataannya sangat dipengaruhi oleh kerangka dan struktur perekonomian yang berlaku di suatu negara. Namun seyogyanya harusada keberanian untuk mulai membentuk change makers sehingga setiap individu harus diupayakan untuk dapat menjadi change maker di lingkunganya.
lamongan 06 febroari 2012
gueimaem@yahoo.com

peran Social Entreprenuership Dalam Pembangunan

PERAN SOCIAL ENTREPRENEURSHIP
DALAM PEMBANGUNNAN

06 febroari 2012 maz imaem

             Social Entrepreneurship akhir-akhir ini menjadi makin populer terutama
setelah salah satu tokohnya Dr. Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank di
Bangladesh mendapatkan hadiah Nobel untuk perdamaian tahun 2006. Namun di
Indonesia sendiri kegiatan ini masih belum mendapatkan perhatian yang sungguhsungguh
dari pemerintah dan para tokoh masyarakat karena memang belum ada
keberhasilan yang menonjol secara nasional. Oleh karena itu upaya untuk
memasyarakatkan Social Entrepreneurship sebagaimana diselenggarakan oleh
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, harus mendapatkan dukungan semua
pihak yang mendambakan terwujudnya kesejahteraan rakyat yang merata, dan
diharapkan tidak hanya berhe nti dalam seminar ini saja tetapi dilanjutkan dengan
rencana aksi yang nyata sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat.
Sesungguhnya Social Entrepreneurship sudah dikenal ratusan tahun yang
lalu diawali antara lain oleh Florence Nightingale (pendiri sekolah perawat pertama)
dan Robert Owen (pendiri koperasi). Pengertian Social Entrepreneurship sendiri
berkembang sejak tahun 1980 –an yang diawali oleh para tokoh-tokoh seperti
Rosabeth Moss Kanter, Bill Drayton, Charles Leadbeater dan Profesor Daniel Bell
dari Universitas Harvard yang sukses dalam kegiatan Social Entrepreneurship
karena sejak tahun 1980 berhasil membentuk 60 organisasi yang tersebar diseluruh
dunia. Pengertian sederhana dari Social Entrepreneur adalah seseorang yang
mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurship
untuk melakukan perubahan sosial (social change), terutama meliputi bidang
kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesehatan (healthcare). Jika business
entrepreneurs mengukur keberhasilan dari kinerja keuangannya (keuntungan
ataupun pendapatan) maka social entrepreneur keberhasilannya diukur dari
manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
Bagi disiplin ilmu ekonomi kata entrepreneur merupakan hal yang sudah
mendarah daging karena sejak semester pertama sudah diperkenalkan dengan
tokoh-tokohnya antara lain Richard Cantillon (1755), J.B. Say (1803) dan J.
Schumpeter (1934). Cantillon menyatakan entrepreneur sebagai seseorang yang
mengelola perusahaan atau usaha dengan mendasarkan pada akuntabilitas dalam
menghadapi resiko yang terkait ( a person who undertakes and operates a new
enterprise or venture and assumes some accountability for inherent risks); J.B.Say
memberikan pengertian entrepreneur sebagai seseorang yang mampu
meningkatkan nilai sumber daya ekonomi ke tingkatan yang lebih tinggi, baik
produktivitasnya maupun nilainya ( a person who creates value by shifting economic
resources out of an area of lower and into an area of higher productivity and
greater yield), sedangkan Schumpeter mendefinisikan “unternehmer” atau
entrepreneur sebagai an innovative force for economic progress, important in the
process of creative destruction and therefore as a change agent.
Dari berbagai pengertian tersebut maka Social Entrepreneur sesungguhnya
adalah agen perubahan (change agent) yang mampu untuk :
· Melaksanakan cita-cita mengubah dan memperbaiki nilai-nilai sosial
· Menemu kenali berbagai peluang untuk melakukan perbaikan
· Selalu melibatkan diri dalam proses inovasi, adaptasi, pembelajaran
yang terus menerus
· Bertindak tanpa menghiraukan berbagai hambatan atau keterbatasan
yang dihadapinya
· Memiliki akuntabilitas dalam mempertanggungjawabkan hasil yang
dicapainya, kepada masyarakat.
Yang menggembirakan bahwa akhir-akhir ini adalah terjadinya pergeseran
social entrepreneurship yang semula dianggap merupakan kegiatan ”non-profit”
(antara lain melalui kegiatan amal) menjadi kegiatan yang berorientasi bisnis
(entrepreneurial private-sector business activities). Keberhasilan legendaris dari
Grameen Bank dan Grameen Phone di Bangladesh adalah salah satu contoh
terjadinya pergeseran orientasi dalam menjalankan program social
entrepereneurship. Hal ini menjadi daya tarik bagi dunia bisnis untuk turut serta
dalam kegiatan social entrepreneurship, karena ternyata dapat menghasilkan
keuntungan finansial.


kode warna


Cyan #00ffff
Blue #0000ff
Skyblue #abcdef
Darkcyan #008686
Cadetblue #5f9ea0
Midnightblue #191970
Mediumslateblue #7b68ee
Cornflowerblue #6495ed
Lightsteelblue #b0c4de
Lightskyblue #87cefa
Powderblue #bde0e6
Aquamarine #7fffda
Dodgerblue #1e90ff
Royalblue #4169e1
Blueviolet #8a2be2
Indigo #460082
Lavender #e6e6fa
Lightblue #add8e6
Deepskyblue #00bfff
Darkslateblue #483080
Mediumvioletred #071585
Mediumturquoise #4801cc
Mediumorchid #ba55d3
Darkturquoise #00ccd1
Paleturquoise #afeeee
Darkorchid #9932cc
Slateblue #6454cd
Aqua #00ffff
Red #ff0000
Darkred #860000
Indianred #cd5c5c
Firebrick #622222
Lightsalmon #ffa07a
Lightcoral #f08080
Maroon #800000
Crimson #dc143c
Tomato #ff6347
Salmon #fa8072
Coral #ff7f50
Pink #ffc0cb
Hotpink #ff69ba
Deeppink #ff1493
Lightpink #ffb6c1
Mistyrose #ffe4e1
Moccasin #ffe4b5
Peachpuff #ffdab9
Mintcream #f5fffa
Floralwhite #fffaf0
Oldlace #fdf5e6
Thistle #d8bfd8
White #ffffff
Linen #faf0e6
Navy #000080
Snow #fffafa
Orange #ffd000
Orangered #ff4500
Burlywood #deb887
Darkorange #ff8c00
Palevioletred #db7093
Sandybrown #f4a460
Rosybrown #bc8f8e
Brown #a52a2a
Peru #cd853f

Gold #ffd700
Yellow #ffff00
Lightyellow #ffffe0
Yellowgreen #9acd32
Palegoldenrod #eee8aa
Goldenrod #daa520
Lime #00ff00
Green #008000
Seagreen #f4a460
Palegreen #98f698
Lightseagreen #20b2aa
Forestgreen #228622
Lightgreen #90ee90
Olive #808000
Tan #d2b48c
Teal #008080
Olivedrab #6b8e23
Greenyellow #adff2f
Darkslategray #2f4f45
Darkolivegreen #55662f
Mediumspringgreen #00fa9a
Darkgoldenrod #688606
Darkkhaki #606766
Orchid #da70d6
Fuchsia #ff00ff
Darkmagenta #860086
Darkviolet #940003
Mediumpurple #9370db
Violet #ee82ee
Purple #800080
Plum #dda0dd
Gray #808080
Dimgray #696969
Gainsboro #dcdcdc
Lightslategray #778899
Lightgray #d3d3d3
Slategray #708090
Darkgray #a9a9a9
Silver #c0c0c0
Springgreen #00ff7f
Lightpink #ffb6c1
Navojowhite #ffdead
Darksalmon
Khaki #f0e68c
Aquamarine
Chocolate #d2691e
Chartreuse
Limegreen
Slateblue
Saddlebrow
Aliceblue
Wheat
Bisque
Sienna

cuplikan Hakikat Ilmu Ekonomi


Cuplikan Hakikat Ilmu Ekonomi
                Seperti telah di jelaskan bahwa manusia primitif memiliki kebutuhan yang sangat terbatas dalam kebutuhan pokok, sndang, pangan, dan papan. Mereka hidup bergerombol dan saling memenuhi kebutuhan mereka sendiri dengan mengusahakan  areal tanah yang mereka miliki. Akan tetapi, setelah transportasi dan komunikasi berkembang, ruang lingkup ebutuhan kebutuhan manusia semain bertambah luas. Mereka mulai berhubungan dengan dunia luar dan mulai muncul keinginan akan kebutuhan lain. Barang barang yang mereka butuhkan tidak selalu tersedia dalam jumlah mencukupi. Adanya kebutuhan yang terbatas , di hadapkan dengan alat pemuas kebutuan yang terbatas, menjadi masalah pokok dalam ilmu ekonomi. Hal ini merupakn tantangan bagi kehidupan manusia, dan mendorong mereka untuk mengembangkan segala daya dan potensi yang mereka miliki. Bagaiman memcahakan masalah ini, dengan mendayagunakan segala sumber, untuk memuaskan kebutuhan yang tidak terbatas itu. Termasuk bidang penelaahan ilmu ekonomi. Jadi ilmu ekonomi ialah ilmu yang mempelajari cara masyarakat mengalokasikan sumber sumber yang terbatas  untuk keperluan produksi dan distribusi barang dan jasa  ( Ecomics is a study of the ways and means by which a society allocates its limitid resources in the production and distribution of goods and servicer,  Musseiman and Hughes h. 19).
                William F. Schoell (1993) juga mengatakan : Ekonomic is the study of how piople and a society shooce to use scarce resources to satisfy people’s unlimitid wants.
                Studi ekonomi juga termasuk mengana lisa kegiatan orsng dslsm hubungan dengan memproduksi , menabung dan membelanjakan uangnya. Kemudian masyarakat mengembangkan sistem ekonomi agar dapat mengatur keseimbangan antara sumber daya alam dan sumberdaya manusia.
Loading

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management